Friday, November 03, 2006

A Little Story bout My Journey in KBMK

PROLOG



Ini adalah kisahku yaitu seorang anak KBMK yang pernah menjadi domba yang hilang namun akhirnya kembali lagi ke KBMK. Suatu kisah dimana domba ini benar-benar tersesat selama beberapa saat tanpa memahami apa makna arti sebuah "Keluarga Besar" sehingga tak mau perduli dengan yang terjadi di KBMK.


Mungkin tidak semua pengalaman aku ceritakan di sini. Aku hanya mencoba menceritakan yang ada di ingatanku, apa yang kualami, yang kurasakan tentang KBMK selama ini. Semoga ini bisa menjadi suatu bahan renungan bagi kita smua: apakah kamu pernah mengalami hal seperti ini? Apa sih untungnya ngumpul di KBMK? Apa arti Keluarga Besarnya KBMK bagi kamu, sebagai ajang kerohanian, ajang ngrumpi, cuman ngumpul tanpa tujuan, ato yang lain? Hanya kamu yang tau..




MY JOURNEY IN KBMK


Pertama kali aku ketemu sama anak KBMK yaitu di pra ordik, 24 Agustus 2002. Awalnya sempet kaget juga karena jumlah anak Katoliknya sedikit, yah maklum aku kan dari SMA Katolik, yang pastinya mayoritas beragama Katolik, jadi begitu liat anggota KBMK cuman dikit aku baru sadar klo aku sekarang bukan lagi jadi anak mayoritas tapi jadi minoritas (yah gak apa-apa lah). Di pra-ordik pulalah pertama kalinya aku bertatap muka dengan anak-anak angkatanku, 2002. Emang sih, udah ada yang kenal sebelumnya yaitu Tika, temen gereja sekaligus tetangga, Henny K & Novi yang merupakan temen SMAku. Sedang yang lainnya, aku blom kenal. Aku juga agak grogi abisnya baru di taun 2002 ini KBMK baru ada anggota dari PSIK-A tapi beruntunglah diriku karena yang dari PSIK-A gak hanya aku tapi ada 2 lagi, namanya Henny P & Sita (fiuh...).


Kesan yang kudapat sejak awal sih kakak-kakak KBMK tu baek-baek, meskipun di KBMK blom pernah ada anak PSIK-A tapi mereka menyambut aku dengan baik. Aku masih inget waktu itu kakak-kakak bilang klo mulai sekarang kita semua adalah keluarga, klo perlu bantuan gak usah sungkan sama kakak-kakak. Yah waktu itu se aku masih gak paham maksudnya keluarga gimana. Ya pokoknya ngikut ajalah. Ketika memasuki masa ordik, acara yang paling kutunggu-tunggu (juga temen-temen 2002 lain, menurut survei wawancara langsung :p) yaitu kerohanian. Mengapa? Karena pertama, acaranya santai banget, nyanyi-nyanyi, maen-maen, guyon-guyon, dll. Pokoke FO (Fun Oriented) banget, meskipun namanya acara kerohanian tapi jarang banget ada acara yang bersifat rohani kecuali waktu yang pagi & ada 1 kali misa (Oh My God, ini acara kerohanian apa kumpul-kumpul doank ya?). Kedua, kok ya pas banget anak 2002 itu juga sebagian besar anak FO jadi yah klop lah. Anak 2002 yang ber-17 itu memang punya ciri khas masing-masing (mulai dari yang pendiem, serius, suka ketawa, cerewet, sok akrab, pemalu dan yang lemah gemulai -siapakah dia?-) jadinya bikin suasana tambah heboh aja. Apalagi yang bikin games gak cuman kakak-kakak aja tapi kita yang 2002 juga turut menyumbang acara games yang seru-seru (salut...salut...). Dan satu hal lagi bahwa selama ordik KBMK punya satu “anggota tidak tetap”. Namanya Eko (dia temen SMAku) dan berhubung dia satu-satunya maba yang Budha jadi sering “ditelantarkan” saat kerohanian makanya dia sering ikutan acara KBMK dan KBMK menerima dengan gembira, banyak anak suasana makin seru :D


Begitu selesai ordik, masih ada yang namanya krima. Aduh berat banget, sabtu-sabtu ke kampus, pagi-pagi lagi L. Tapi seperti di ordik, acara yang paling disukai tetep kerohanian. Nah inilah tempat pembuktian bahwa anak 2002 kreatif. Waktu acara kerohanian jarang banget kakak-kakak KBMK yang ikut (knapa ya selalu males begini para senior-senior KBMK?) jadinya yang bikin acara ya kita sendiri tapi eits jangan salah, kita selalu bikin acara heboh. Bahkan kita juga sempat keluar kampus waktu kerohanian siang sebanyak 2x (seingatku sih), ke rumahnya 2 orang kakak angkatan (masih ada yang ingat?).


Namun di saat krima selesai, mulailah segala rintangan. Waktu itu KBMK jarang banget kumpul, gak tiap minggu kumpul. Dan berhubung KBMK pertama kalinya dapet anggota PSIK-A, jadinya sering melupakan keberadaanku, Henny dan Sita. Oleh sebab itulah, kita jadi jarang ketemu sama anak KBMK lain. Tapi ini semua gak 100% kesalahan KBMK sih, karena kita ber-3 juga kadang-kadang klo diundangpun, kita males dateng hehehe.


Masuk semester 2, sebenarnya aku sedih waktu itu karena anak PD 02 kan ada pelajaran agama jadi mereka ber-14 masih bisa ketemu, sedangkan aku, Henny, Sita gak ketemu mereka lagi karena dapet pelajaran agama masih di semester 4 yang akan bareng sama anak PD 03. Jadi sama KBMK kondisinya gimana? Ya jangan ditanya, sama anak 2002 dewe aja jarang ketemu apalagi yang angkatan atas malah lebih jarang ketemu lagi. Dan keadaan semakin memburuk aja, Trio kwek-kwek (aku, Henny, Sita) semakin dilupakan, kami juga males nanggepin bahkan sama anak 2002 yang dulunya klo ketemu masih nyapa dan guyon-guyon menjadi jarang guyon dan bahkan klo ketemupun gak nyapa (yah..gak semua gitu se). Bayangkan!! Jadi seolah-olah komunikasi dengan KBMK terputus. Ironis sekali! L


Ketika anak 2003 sudah memasuki masa ordik, aku menyadari suatu hal yaitu bahwa nanti di semester 4 bakalan ketemu anak PD 03 di pelajaran agama. Aku gak mau nantinya ketika bertemu di agama, bakalan jadi orang asing padahal sama-sama anak Katolik. Makanya aku memotivasi 2 rekanku (cie...) supaya kami bisa paling gak tau mana aja anak KBMK 2003 yang bakalan jadi teman waktu pelajaran agama. Akhirnya kami mencoba untuk kembali ke KBMK meski dengan hati yang agak sungkan karena jarang ikut kumpul tapi ya sedikit bermuka tebal untuk kembali. Trio kwek-kwek diwakili aku & Sita mencoba masuk lewat PMB dan krima 2003 (kayak penyusup aja). Suatu tantangan kembali aku alami ketika mencoba berbaur dengan mereka. Kok bisa? Suatu hal yang mengejutkan aku adalah bahwa ternyata anak 2003 berbeda 180° dengan anak 2002 dan angkatan lain. Klo anak KBMK lama itu kebanyakan FO, suka rame dewe sedangkan 2003 hampir semuanya setipe dan pendiem banget (yang 2003 jangan tersinggung ya!!). Jadi aku agak kesulitan untuk mengajak mereka bergaul. Ini sungguh bukan hal yang mudah karena aku melihat di awal-awal krima mereka aja sama anak satu angkatan aja masih diem-dieman apalagi sama kita-kita yang angkatan atas. It’s so hard guys!!


Tapi setelah beberapa kali aku dan Sita ikut krima, aku sudah bisa untuk masuk ke mereka meski pakai cara “SKSD” (Sok Kenal Sok Dekat). Terus terang aja, aku ini orang yang tipe pasif, aku pendiam klo tidak kenal dengan seseorang dan tidak menyapa duluan sebelum disapa. Tapi karena “kepepet” akhirnya ya aku memakai sistem SKSD itu. Kebetulan pula ruang kuliahku dan anak 2003 dekat jadi sering banget ketemu. Makanya tiap kali ketemu mereka, aku duluan yang menyapa mereka, aku yang mengajak ngobrol mereka duluan. Dan lama kelamaan memang cara ini berhasil dan aku senang bisa berteman dengan mereka. Aku bisa guyon dengan mereka dan lama kelamaan aku justru lebih menganggap mereka temanku dibanding anak 2002, angkatanku sendiri. Apalagi diantara semua anak 2003 gak ada satupun yang menyebut namaku dengan hormat (maksudnya pake panggilan Kak ato yang laennya gitu) smuanya langsung nyebut namaku tanpa tedeng aling-aling. Eh tapi sebenarnya awalnya gak gitu juga se, dulu mereka masih nyebut namaku dengan hormat, sopan banget tapi lama kelamaan mereka melupakan sopan santun pada seniornya, bahkan ada anak yang langsung ngomong,”Aku gak usah manggil kamu Kak ya cukup Allo aja.” What?! Ya gak apa-apalah. Dasar nasib....nasib.... Dan karena itu malah beberapa anak 2003 sampe lupa klo Trio kwek-kwek itu angkatan 2002, dipikirnya kami anak 2003 (waduh....gawat!!! tapi gak apa-apa itu menandakan bahwa kami awet muda hoahoahahaha). Lagipula justru keberadaan anak 2003 itulah, aku masih ingat bahwa aku anggota KBMK, meski semua orang sudah melupakan hal itu. Aku juga beradaptasi dengan cara mereka bergaul yang memang beda dengan anak 2002 (bukan maksud hati membandingkan tapi kenyataannya emang aku cuman berkecimpung di 2002 dan 2003 aja sih). Anak 2003 sangat study oriented dibanding 2002, dan lebih kreatif 2002 dibanding 2003. (Sorry, klo ada pihak–pihak yang tersinggung dengan kalimat ini). Tapi justru di situ letak ciri khas masing-masing angkatan. Bener gak? (harus bener!!)


Mungkin banyak yang heran knapa se aku kok kliatannya maksa banget bela-belain ikutan krimanya 2003 ato sampe mengeluarkan jurus SKSD segala? Apa ada udang di balik batu (pandangan penuh curiga padaku)? Yah seperti yang aku katakan tadi bahwa awalnya aku cuman pingin kenal anak 2003 sebelum ketemu mereka di pelajaran agama. Trus co kerohanian di krima itu Tika, dia kesepian karena harus sendirian makanya aku dan Sita nemenin Tika skaligus mengenal anak 2003 (skali dayung 2-3 pulau terlampaui). Tapi jangan khawatir rek (khususnya anak 2003), aku gak berniat memperalat kalian demi pelajaran agama aja tapi aku bener-bener tulus ikutan meramaikan suasana krima 2003 dan berteman dengan kalian kok J


Memasuki semester 4, aku gembira karena ada pelajaran agama. Suatu hal yang kutunggu-tunggu. Aku pingin merasakan gimana se rasanya kuliah dengan jumlah mahasiswa yang sedikit, sama anak KBMK sendiri pula. Tapi waktu itu pula, aku masih heran kok bisa ya anak 2003 itu pendiam sekali. Waktu pelajaran agama, mereka sangat memperhatikan dan klo ditanya sama dosen juga diem sekali. Kupikir waktu bisa mengubah mereka ke arah lebih aktif ternyata tidak sama skali (skali lagi mohon maaf klo ada yang tersinggung!).


Suatu saat, aku mendengar bahwa di KBMK ada keretakan yaitu adanya perbedaan pandangan/visi antara angkatan senior dan junior. Aku sih terus terang gak seberapa tau masalahnya tapi karena ada undangan untuk hadir dalam rapat KBMK, aku ya ikut aja. Setelah tanya sana dan tanya sini, aku baru sedikit “ngeh” masalah yang ada. Dan pendapatku pribadi sih, aku hanya bisa bersikap netral. Aku tidak bisa menyalahkan yang junior atas pandangan mereka tapi aku juga bisa paham pandangan yang senior karena aku juga penganut paham itu (hehehe bingung ya maksudnya… aku sendiri juga bingung kok). Pokoknya pada intinya sih, aku tidak terlalu ikut campur masalah itu, dalam rapat aku lebih mementingkan bagaimana aspirasi anak PSIK ditanggapi karena yah udah tau sendiri kan klo yang PSIK sering dilupakan dalam acara-acara KBMK (wups..).


Lalu kemudian ada rapat besar KBMK, 19 Maret 2004, dimana hampir semua anggota KBMK dateng (jarang-jarang lho bisa kumpul kayak gitu tapi prasaan emang baru kualami sekali seumur hidup di KBMK), kuitung-itung ada 80 anak bahkan bisa lebih. Smua anggota saling curhat tentang perasaan mereka mengenai anak KBMK per angkatan melalui angket dan kemudian dibacakan. Terus terang aku terharu dengan beberapa komentar yang walaupun aku gak tau dari siapa, tapi yang pasti dari anak 2002 sendiri yaitu bahwa meski kita yang 2002 jarang banget untuk ketemu, anak PD tidak pernah melupakan kita yang PSIK dan they miss us!!! (hiks jadi pingin nangis…). Well, dari rapat besar itulah, kita semua anak KBMK berusaha untuk memulai segalanya dari awal. Baik yang berbeda pandangan antar angkatan, memulai kembali keakraban per angkatan, dan berusaha supaya kita yang PSIK tidak terlupakan. Dan dari diriku sendiri, aku juga berusaha untuk melakukannya bersama dengan yang lain (wo..ho..hoo..).


Dan tibalah saat paskah dimana anak 2002 yang jadi panitia mo ngadaian week end tanggal 1-2 Mei 2004. Tapi terus terang aja Trio kwek-kwek gak ikutan kerja. Kami cuman tau gimana suka dukanya 2002 bekerja dari Tika. Terus terang sebenere kami sungkan kok gak kerja tapi klo mo ikutan kerja, mo ngerjain apa juga bingung. Makanya kami hanya bisa bantu lewat jalan lain dan tentunya lewat doa (hehehe). Dan karena kami sungkan, Trio kwek-kwek memutuskan untuk ikut acaranya. But…tak disangka-sangka ternyata Henny & Sita gak bisa dateng. Waduh…tinggal aku sendiri…hiks hiks hiks pinginnya sih gak ikutan aja habis gak ada temennya. Tapi…setelah berpikir-pikir demi rapat besar KBMK yang masih mengingat anak PSIK dan bahwa ini gawenya 2002, aku memutuskan untuk ikut meski jadi single fighter. Akhirnya ya…begitulah jadi seorang diri anak PSIK diantara anak PD. Awalnya sih sempet takut juga karena gak ada temennya, tapi untungnya anak 2003 nemenin aku. Dan bisa dibilang selama acara aku paling banyak menghabiskan waktu sama anak 2003 (kok bisa ya…). Mereka sangat baik-baik sama aku & mereka itu nganggap aku kayak sesama 2003 (ceritanya aku emang beneran jadi awet muda hehehe). Acaranya sih bagus cuman yah..ada sih kekurangannya tapi karena aku jadi single fighter, I can’t do anything. But it’s okay lah untuk permulaan.


Hari-hari berlalu seperti biasanya. Tapi suatu hari ketika aku, Henny & Sita baru aja habis kuliah, aku melihat beberapa anak KBMK sedang ngumpul di Bu Tris dan tiba-tiba kami bertiga disuruh ikutan ngumpul. Kami sempet bingung juga, ngapain nih. Kemudian dimulailah pembicaraan yang serius, kata Kak Heri ini lagi ngomongin tentang PJP. Heh?! Terus terang aja sontak kami bertiga kaget, apaan tuh?! Kami bertiga berpandangan dan berbisik-bisik eh gak taunya ditegur ma Kak Heri hehehe dan seingatku waktu itu Kak Heri manggil kami “Trio kwek-kwek dan mungkin itulah awal muasalnya nama Trio kwek-kwek (thanx to Kak Heri yang udah ngasih nama ke kami :p)


Waktu itu diumumin sekalian kepanitiaan PJP dan tau ga Trio kwek-kwek dimasukin di sie acara yang setauku sie acara itu paling banyak banget tugasnya. Tapi aku tak mampu berkata apa-apa karena udah capek siang-siang abis kuliah ditambah tentang PJP yang aku sama sekali gak tau apa maksudnya itu apalagi dimasukin di sie acara pula. Waduh……L


Tapi beruntunglah sie acara karena co-nya itu Rudi. Well, pastinya Trio kwek-kwek udah kenal mulai dulu se cuman berhubung udah lama gak komunikasi jadinya kita juga agak kikuk gitu deh. Berhubung sie acara udah banyak agenda yang harus dikerjain, Rudi tuh rajin banget nyuruh anak buahnya rapat. Yah meski Trio kwek-kwek masih disorientasi tentang PJP tapi sungkan klo gak dateng, pastinya kita mesti ngumpul donk. Dan untungnya pula, sie acara itu banyak anggotanya yaitu Rudi as co, Dhana, Tika, Kak Arti, Kak Widya dan Trio kwek-kwek. Hmm sebenere masih ada 3 anak 2003 tapi gak pernah nongol, cuman satu yang nongol di akhir-akhir (ya..gak apa-apa wes). Waktu awal-awal rapat gitu, aku (dan Trio kwek-kwek lain pastinya) merasa rapat itu sebuah kewajiban bagi kami karena yah meski banyak anak 2002 tapi kan udah lama gak ngumpul sama mereka jadi agak aneh aja bersama mereka. Tapi seiring berjalannya waktu, saking keseringan ngumpul, aku akhirnya bisa dapet bayangan PJP itu acara apa dan juga akhirnya semakin menganggap bahwa rapat sie acara bukan sebuah kewajiban tetapi sebuah kesenangan. Gimana gak, kita tuh makin lama klo kerja makin nglantur. Mosok dalam 15 menit aja, kita menghabiskan waktu 10 menit untuk ngrumpi dan 5 menit sisanya untuk kerja. Kapan selesainya klo gitu terus ya? Tapi justru disitulah letak kesenangannya. Aku seneng banget bisa ngumpul sama mereka. Aku bisa deket lagi sama temen-temen 2002ku & bisa mengenal lebih jauh Kak Arti & Kak Wid hohoho.


Banyak sekali kenangan selama jadi sie acara. Pertama, Trio kwek-kwek pernah ada di kampus selama 10 jam berturut mulai jam 7 pagi sampai jam 5 sore dimana jam 7 - jam 2 kuliah dilanjutin rapat jam 2 sampai jam 5 sore di GM bahkan sampai Pak Moko yang njaga GM lt 1 udah pulang duluan (ckckck aku kagum sama diriku sendiri hooo.....). Kedua, waktu sie acara rapat di rumahku gara-gara ada tugas yang belum selesai tapi ya gitu tetep ae banyak acara ngrumpinya (ya maklum banyak ceweknya). Ketiga, bukannya menyombongkan diri sih, aku itu ibaratnya jadi sekretarisnya sie acara (cie....) karena disuruh ngetik uakeh tentang acarane dan harus direvisi berulang-ulang pula, adoh capek.. Dan yang paling lucu dari sie acara itu, kita bener-bener bagai anak ayam yang kehilangan induk klo gak ada Rudi saat ditanya waktu rapat besar panitia PJP tentang acara yang kita bikin. Pernah tuh, Rudi pergi beberapa hari waktu rapat besar, ya bener anggota sie acara banyak yang dateng tapi begitu ditanyai tentang acara sama Kak Heri, kita semua hanya bisa ketawa karena gak tau harus jawab apa, kami hanya bisa berkata,”Klo gak ada Rudi kami tak dapat berkutik.” Emang bener sih tanpa Rudi, sie acara gak bakalan bekerja apapun hehehe (salut buat Rudi).


Secara jujur aku akui bahwa acara PJPMKFKI IX yang diadakan 1-7 Agustus 2004 (di Malang mulai 4-7 Agustus 2004) ini telah banyak mengubah KBMK termasuk diriku. Klo aku liat dengan acara ini, KBMK bisa banyak ngumpul, bisa interaksi satu sama lain tanpa bedain angkatan dan saling bahu membahu mulai mencari dana sampe persiapan smua kegiatan. Aku sendiri merasakan hal yang sama. Hubunganku dengan temen-temen 2002 kembali lagi seperti dulu saat kami pertama jumpa di kampus tercinta, aku bisa deket sama kakak-kakak angkatan atas bahkan dulunya yang aku gak terlalu kenal sama ketua KBMK waktu itu soale dari wajahnya keliatan dia menakutkan banget eh gak taunya entah knapa waktu PJP kita bisa guyon serasa udah lama kenal. Jadi emang bener don’t judge a book by its cover hehehe (maaf yo bagi yang merasa jadi ketua KBMK waktu itu :p).


Hanya yang aku sayangkan, kenapa anak 2003 sama sekali kurang ikut berperan dalam PJP ini. Bukannya aku mengadili mereka, menyalahkan mereka atas tindakan kecuekan mereka atas acara sebesar PJP tapi sayang banget gitu loh soale aku merasa sebenernya anak 2003 punya potensi untuk bisa bantu tapi kenapa mereka gak nglakuin, aku gak tau. Mungkin karena PJP dilaksanain waktu liburan jadinya banyak yang milih liburan daripada ikutan, ya entahlah.


Setelah PJP berakhir, dimulailah tahun ajaran baru saat dimana KBMK menyambut anggota baru anak 2004. Terus terang aku salut sama beberapa anak KBMK yang klo diliat jarang kliatan di KBMK tapi mau ikutan nyambut anak 2004 termasuk aku. Heran juga sih, kebanyakan yang megang acara di wawancara kerohanian & ordik 2004 itu anak 2002 (regenerasi KBMK kali ye....). Apalagi banyak anak yang mesti ikutan acara kerohanian dibanding taun-taun lalu. Knapa ya? Setelah dipikir-pikir rupanya yang bikin kayak gitu rupanya semangat PJP yang masih membara di dalam diri kita semua (hoo.....). Hampir semua pake tas PJP dan ngobrol ngalor ngidul tentang kenangan di PJP sedang anak 2003 & 2004 hanya melongo bingung gak ngerti yang kita omongin (kasian deh loe... :p).


Aku bener-bener senang sekali waktu itu, finally setelah sekian lama aku hidup di FKUB, aku baru sadar klo aku tak bisa hidup tanpa KBMK, sekali gak ikutan acara KBMK punya penyesalan yang mendalam banget (puitis banget).


Saat pemilihan ketua baru, terpilih Dhana & Ogie. Aku sih suka-suka aja karena saatnya 2002 menunjukkan kebolehannya mengelola KBMK. Aku lebih salut lagi dengan program the new KBMK yaitu belajar, berdoa, bermain, bermain, bermain. Itu berarti anak 2002 tetep seperti yang dulu, suka maen aja (FO gitu loh). Dengan program baru ini, aku merasa 2002 yang dulu hilang sekarang kembali lagi. Aku akhirnya menemukan kembali bahwa ini lho 2002 dan aku ini lho jadi bagian dari mereka. Untuk angkatan yang lain, rasanya dengan program baru ini juga mereka bisa lebih mengkompakkan diri mereka sendiri dan yang tak kalah penting bahwa seluruh anggota KBMK bisa bersatu tanpa membedakan junior ato senior J.


Dengan program barunya KBMK rasanya semua acara bisa terkendali dengan baik dan selalu ada aja acara tiap hari Jumat. Duh senengnya! Tapi abis UTS kok makin lama acaranya makin jarang ya. Mengapa? Mengapa? Mengapa ini terjadi? Lihatlah hasilnya saat natal, koor di natalan dengan KMK (Keluarga Medis Katolik) sama skali tanpa persiapan yang matang. Lha wong sore koor, siangnya yang latihan cuman segelintir. Aduh...merananya.... Tapi untungnya waktu paskahan, koornya udah bagus eh lha kok dari anggota KMK sendiri gak seantusias pas natal untuk dateng. Yah.......


Kenangan terakhir tentang KBMK sebelum aku menyelesaikan tulisan ini adalah waktu acara Paskah tanggal 14 Mei 2005 yang katanya mo bikin acara lain daripada yang lain tapi ternyata berakhir dengan bakar-bakar di villa Dhana (bukan bakar villanya Dhana tapi bakar ikan di villanya Dhana!). Sayang sekali yang datang cuman sedikit cuman 12 orang tapi ya gimana lagi acaranya mendadak, aku aja hampir gak ikut (woi..panitianya gimana nih?!). Tapi bagiku yang paling seru waktu itu bukan acaranya tapi acara berangkatnya, yang penuh pengorbanan. Waktu itu aku, Sita, Erwin, Erik yang naek sepeda motor berangkat duluan tapi berhubung gak tahu villanya Dhana, akhirnya disuruh nunggu di alun-alun Batu. Sambil nunggu kita berempat duduk-duduk di Alun-alun dan hasilnya kita emang bener-bener ngentang-ngentang luama banget (adoh....baru kali ini seumur hidup terjadi pada diriku). Tapi di acara itu masih ada satu hal yang mengganjal di hatiku. Mau tau? Jadi gini, waktu itu kan Dhana minta bantuan bawa nasi setermos buat makan di sana. Karena aku ke sana naek sepeda motor jadi termosnya dibawa pake mobil. Dan sampe tulisan ini diturunkan, termosku belum kembali ke aku (hayo....ngaku siapa yang mbawa?????)





EPILOG


Akhirnya setelah sekian lama berada di FKUB, aku baru menyadari apa sih arti Keluarga Besar Mahasiswa Katolik itu. Sebuah keluarga yang gak hanya sekedar sama-sama beragama Katolik tapi lebih menekankan ke persaudaraan saling membantu satu sama lain tanpa membedakan.


Suatu hal yang amat berarti, bahwa aku dulu menjadi domba yang hilang bisa kembali lagi ke jalan yang benar. Di saat kehilangan temen-temen 2002, aku bener-bener putus asa. Di saat aku bertemu anak 2003, aku bisa kembali bersemangat dan kehadiran mereka tetap mengingatkanku akan adanya KBMK. Tanpa mereka aku pasti sudah lupa klo ada yang namanya KBMK. Mereka aku anggap sebagai temenku sendiri dan bahkan di saat itu aku merasa lebih “comfort” bersama mereka dibanding 2002 sendiri. Namun PJP telah menyadarkan aku bahwa aku ini tetap anak 2002 dan bisa dengan bangga menyebut diriku “KBMK 2002” tanpa ragu. Meski sejak PJP, aku dengan anak 2003 jarang ketemu lagi tapi mereka tetap temen-temen terbaikku pula J J


Untuk ke depannya, aku hanya akan berusaha untuk selalu hadir kapanpun dan dimanapun ada acara KBMK karena sekarang ini aku sudah tingkat akhir di kampus apalagi temen-temen PD 02 juga sudah di rumah sakit jadi mungkin saatnya untuk regenerasi pengurus KBMK. Sudah saatnya yang anak-anak angkatan bawah yang mengurusi KBMK. Harapannya di masa mendatang, secara formal sih semoga KBMK tetap bersatu tanpa perpecahan, usahakan selalu ngumpul paling tidak seminggu sekali, imbangi acara seneng-senengnya dengan acara yang bersifat rohani (minimal 50-50), buat anak KBMK tau apa sih gunanya KBMK.


Untuk adek-adekku di PSIK-A yang masih 2 gelintir (moga-moga bisa nambah banyak). Harapanku mereka bisa selalu aktif di KBMK ato paling gak nongol gitu lah. Kalianlah yang jadi penerus generasi PSIK-A di KBMK setelah kami, Trio kwek-kwek. Anak Gizi juga gitu, meski masih sedikit kan lama-lama jadi bukit, yang semangat aja!!


Satu hal lagi gak lupa pesan buat smuanya aja bahwa KBMK sekarang udah beraneka ragam mulai dari PD, PSIK-A dan Gizi tapi rasanya kita saat ini melupakan PSIK-B deh. Kita cuman ketemu paling di ordik aja. Emang sih mereka cuman bentar di kampus FKUB tapi alangkah indahnya klo ada satu kesempatan, KBMK bisa bikin acara yang nglibatin mereka (mungkin Natal ato Paskah). Walau bagaimanapun mereka pernah ngumpul bareng KBMK dan tetap jadi bagian dari Keluarga Besar Mahasiswa Katolik FKUB.


Dan yang paling trakhir, klo ditanya secara personal, secara keseluruhan aku sih berharap KBMK tetep seperti sekarang belajar, berdoa, bermain, bermain, bermain...........hehehe


JULI 2005